Showing posts with label Perempuan di Keheningan. Show all posts
Showing posts with label Perempuan di Keheningan. Show all posts

Catatan Kecil untuk Lelaki yang Mengasihiku...

0 comments

Oleh : Perempuan di Keheningan

Catatan Kecil untuk Lelaki yang Mengasihiku - Kepadamu, yang selalu meninggalkan sebait Tadzkirah di batok kepalaku, tiap ba'da Subuh, sebelum genggam jemarimu menuntun langkahku ke ambang pintu, menyambut rekah fajar yg berbinar.

ya, bahwa pada akhirnya ku akui, di belakang mu lah ku pesan satu tempat terindah untuk menggenapi rangkaian sujud-sujudku, pada Dhuha hingga akhir Witir nanti.

dan aku tak mengelak, degup di dada kian menjadi, manakala menatap teduh wajahmu yg terbasuh Wudhu ;aku semakin kepincut ketika kudengar derit pintu malam hari, bersambung dengan kecipak air dari belakang rumah, pada duapertiga malam, adalah Wudhu mu. ya..lantunan kidung pujimu kepada Sang Khalik semakin menghebatkan getar-getar kagumku.

angkuhku luruh kecewaku binasa satu hal yang ku mau kini ; dan biarkan kepadamu ku tetap berbagi bakti, hingga kelak ku dengar Engkau lafalkan :" Wal ladziina yaquuluuna Rabbana hablana min azwaajina wa dzurriyatina qurrta a'yuniw waj'alna lil muttaqiina imaama..".

benar aku, yang tetap inginkan dampingi waktumu berbuka puasa hingga jelang Imsak menyapa. benar, jika di ijinkan kupesan satu ruang di Surga, degan menjadikanmu Imam atasku dan keturunanku.
[baca selengkapnya...]

Selembar Surat di atas Meja Kaca

0 comments
Oleh : Perempuan di Keheningan

Selembar Surat di atas Meja Kaca - Kupinjam temaram rembulan untuk menerangi ruang sunyi, di ketika ku tuliskan surat tanpa sampul ini. Seperti Engkau tahu, serupa malam-malam sebelumnya, betapa mata enggan terpejam pada sebab yang entah.

Kembali ku tatap teduh wajahmu, terbingkai manis diatas meja samping kuberbaring. Masihkah dapat kutemukan kelakar kita yg tersisa di ujung taman kotamu sekembaliku nanti? [tanyaku membatin],ataukah telah tersapu rerintik hujan senja tadi. Ah,senyummu tak melampirkan jawab, Kudekap.

Memang benar katamu, biarkan segalanya mengalir seperti air. Namun masih saja aku sering mengumpati jarak dan waktu yang kuyakini menjerujikan langkah hatiku. Padahal tidak demikian, seandainya saja aku mampu mengedepankan keikhlasan. Aku mencoba mengingat lagi, kapan sejatinya langkah awal kaki kecil kita mulai beradu, menyimpul di satu titik temu, menjabatkan keresahan-keresahan kita pada sebuah sua yang senyap. Mengikatkan rasa dalam detik-detik yang hening, [hanya lamun berujung senyum, sebuah isyarat ingat]. Sungguh, masih tak kudapati kekuatan untk ku beringsut, dari penggalan kisah kita. Dalam tempo yang tak terbilang, entah sampai kapan. Bahkan lukisan-lukisan yang pernah kita warnai dengan pulas-pulas hati di musim itu, tetap menempel didinding kamarku.

ah Engkau...beginikah caramu merenggut harihariku ? [ d i a m ] Sebentar pagi akan menyambangi, baiknya kusudahi dulu. Ku tinggalkan lembaran ini diatas meja kaca, semoga terbaca pada jeda mu.

*dari Chandra tanpa Cahaya ; teruntuk sebuah jiwa yg teduh Angga. 

[baca selengkapnya...]

Selembar Terimakasih untuk Abi

0 comments

Selembar Terimakasih untuk 'Abi' - Tidak ada yang berubah di tempat ini ketika petang tadi engkau bertandang kemari. Aku masih sama, menikmati sore yg bergerimis.Juga tentang pondok lawas yang tiba-tiba kau kunjungi, disini kedua tangan senantiasa sibuk mencabuti belukar yang juga masih setia merimbun, tumbuh meninggi di tepi penantianku tentang purnama yg sedianya hendak kulewatkan bersama sepijar bintang, namun kini raib entah di langit mana.

Hampir saja aku menyarankan untuk kau berbalik arah membelakangi, jika saja tak kau dahului dengan melayangkan sebentuk kasih dikeningku yang tak sanggup ku tangkis selembut apapun caraku.

Sedang engkau tahu,ada sembilu memahat rongga dadaku. Hanya ucapmu sederhana, terlontar sembari kedua tanganmu mengusapkan airmata ; Ikhlaskan pijarnya, yang tak dapat terangimu sepanjang yang kau mau.

"Ini aku disampingmu....yang sedari dulu tiada pernah sanggup menjauh dari adamu",  ku pandang kembali, rangkaian munajat yg sempat tersusun semusim lalu, betapa masih melekat disetiap rapal kesepuluh jemariku. "tak apa" katamu, memberiku keluasan nafas untuk tetap dapat menciumi wangi rindu lalu. Namun semakin sesak kurasa,entah karena apa. Dan pamitmu tadi, esok pagi hendak kemari. Bersamaku menanam melati di halaman ini.

[ Pada perbatasan fajar,02:13 Bukit kecil, Hkg ]
[baca selengkapnya...]

Surat untuk Kekasih

0 comments
Surat untuk Kekasih
Oleh : Perempuan di Keheningan


ku tuliskan selembar surat ini, di dadamu Kekasih...
 
bilakah Rembulan dan Matahari, di benturkan waktu dalam satu Gerhana syahdu ? batinku pun menanya hal yg sama, duhai Kekasih seperti pesan-pesan yang Kau sampaikan lewat merdu gemerisik dedaun tercumbu bayu, dan pada helainya ku titipkan jawaban sendu '...kita menunggu, menuju titik itu.
 
keheningan ini belum jua terpecah serupa dengan manisnya harap sua yang kian membuncah, meski sesekali asa kita dijerat ragu, oh ..sungguh aku pahami gelisahmu.
 
Kekasih...sesekali tinta jemari ini semerah darah, mengalir dari lambung prasangka yang Kau isyaratkan lewat runcing sapa, senyum sinismu pun kutengadah pasrah, rela sebab kutahu bukan tanpa alasan Engkau di jerujikan bimbang, yakinmu tentang setiaku mengambang. Kekasih...adakah yang lebih perih selain dari keraguanmu ? sedang dijantungku telah kukuncikan namamu agar tak tersinggahi, selain janjiku dan ikrarmu seperti paru-paru ku yg mengalirkan saturupa Nafasmu..
 
[ .... belum selesai kurangkai.... ]
[baca selengkapnya...]